Tips Untuk Masyarakat Agar Menggunakan Digital Platform Secara Aman

Masyarakat

Penjahat digital lalu melaksanakan bermacam usaha buat memerangkap para korban, tercantum sepanjang endemi Covid- 19. Periset Center for Digital Society( CfDS) Universitas Gadjah Mada( UGM), Tony Seno Hartono, berkata kesalahan digital berplatform social engineering senantiasa terjalin di era endemi Covid- 19. Perihal ini tercantum phishing, pembohongan lewat telepon serta SMS, impersonation, serta pretexting.

Tipe kesalahan digital berplatform social engineering senantiasa terjalin di era endemi Covid- 19, serta wujudnya beragam, tutur Tony. Oleh karena itu, Tony menerangkan kalau warga wajib siuman berartinya membuat kompetensi keamanan teknologi digital yang bagus di era endemi.

Perihal itu mengenang kekhawatiran di masyakarat yang bertambah, serta ketergantungan warga kepada program digital terus menjadi besar, sebaliknya wawasan warga mengenai keamanan digital sedang kecil.

Tingkatan Kompetensi

Bagi Tony, terdapat 3 kadar hal kompetensi keamanan teknologi digital. Tingkatan dasar, ialah belum paham resiko yang dialami kala meresmikan fitur keamanan digital.

Tingat menengah, mempunyai atensi hal dasar keamanan dalam berbisnis serta berartinya kerahasiaan informasi individu. Setelah itu tingkatan buntut, ialah mempunyai kompetensi buat aktif menginovasi diri dengan data keamanan digital serta pembohongan.

Kebanyakan konsumen teknologi di Indonesia sedang terletak pada tingkatan dasar serta menengah, tutur Tony.

Perilaku

Tony mengatakan terdapat 5 sikap simpel yang bisa tingkatkan kompetensi keamanan digital. Tahap awal merupakan tidak memakai tutur isyarat yang gampang diduga, serta tidak memberikannya pada orang lain. Tahap kedua, warga wajib mengamankan diri dengan lebih dari satu akses keamanan serta memperkaya diri dengan perintah digital yang tidak biasa.

Sikap ketiga, lalu menginovasi diri dengan data hal pembohongan serta keamanan digital. Tingkah keempat ialah cermas kepada email phising dengan mengecek aturan bahasa email. Umumnya, catatan di email itu berhamburan serta memakai bahasa dramatis.

Sikap kelima yang dapat dicoba merupakan senantiasa memeriksa data ke halaman ataupun account alat sosial sah. Akun-akun itu biasanya diisyarati dengan centang biru.

Kita wajib memeriksa sumber- sumber terpercaya di internet, tercantum alat sosial. Atensi kemurnian account, tutur Tony. Beberapa kesimpulan yang mampu ditarik dari konferensi pers virtual dengan tema Aman Beraktivitas di Platform Digital Selama Pandemi Covid-19 yang diadakan Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gajah Mada didukung Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, DPR RI Komisi I serta Gojek, Kamis (28/5).

Kenyamanan Dalam Teknologi Informasi Secara Daring

Salah seorang narasumber dari Direktorat Jenderal APTIKA, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kementerian Kominfo RI), Hendri Sasmita Yudha, menegaskan, Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakat dalam penggunaan teknologi informasi secara daring.

Antara lain mewujudkan literasi digital dengan cara memberikan edukasi dan wawasan kepada masyarakat terkait pemanfaatan internet. Pemerintah juga berupaya agar ekonomi digital terus berjalan. Selain itu, Kominfo juga bertugas memberikan klarifikasi pengunaan berbagai media untuk memberikan penjelasan dan klarifikasi terhadap sebuah isu/hoaks di masyarakat, ujarnya.

Kominfo juga melakukan pengawasan dan penindakan. Penindakan penyebaran kejahatan atau pelanggaran siber. Pengawasan terhadap kepatuhan penyelenggara dan penyediaan kanal laporan. Bagi yang melanggar, Kominfo akan menutup website dan aplikasi yang memuat konten dilarang, tegasnya.

Pemerintah sebutnya, mendukung semua upaya dan kerja sama dalam penerapan literasi digital termasuk dengan Gojek.

Adjunct Researcher CfDS UGM

Narasumber lain, Adjunct Researcher CfDS UGM, Tony Seno Hartono, menegaskan, pandemi Covid-19 memaksa orang yang sebelumnya tidak menggunakan teknologi harus menggunakan teknologi. Di sinilah nanti akan terjadi gagap teknologi, ujarnya.

Dia mencontohkan, untuk keperluan belanja biasanya orang pergi ke toko melihat langsung barang yang akan dibeli. Tujuannya agar mendapatkan barang yang sesuai dengan keinginan dan terhindar dari penipuan. Kini selama pandemi, pola tersebut berubah. Orang tidak lagi ke toko tapi berbelanja lewat internet. Risikonya, mereka bisa saja mendapatkan barang yang tidak sesuai keinginan dan menjadi korban penipuan. Dengan adanya Covid-19, mindset dan perilaku kita berubah. Inilah yang disebut new normal. Kondisi yang tidak wajar yang mengharuskan kita melakukannya, terangnya.

Dia menyebut, pola konsumsi digital masyarakat di masa new normal akan berubah. Orang akan banyak bertransaksi secara digital. Sayangnya, perubahan ini justru akan semakin memperbesar peluang bagi pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan. Misalnya dengan menawarkan harga yang sangat murah.